Selasa, 01 Februari 2011

Keutamaan Sabar

Di dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah kita dapati banyak ayat-ayat yang menyatakan anjuran dan perintah Allah Ta`ala kepada kaum Mu'minin untuk bersabar menjaga diri dari segala amalan dan perkataan orang-orang yang tidak sabar. Namun pengamalan sabar ini sedikit sekali kita dapati dalam kehidupan pribadi, rumah tangga dan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Bahkan juga jarang kita dapati amalan sabar ini pada para Da'i Ilallah (yakni para penyeru kepada agama Islam). Oleh karena itu di masa yang demikian ini, sangat perlu pembahasan dan penjelasan tentang sabar menurut pandang Islam agar sesuai dengan apa yang diridlai oleh Allah sehingga amalan sabar itu menjadi amalan Ibadah di sisi Allah Ta'ala. Maka dalam rangka misi inilah, kami suguhkan kepada para pembaca yang budiman artikel-artikel kami di seputar sabar ini.

MAKNA SABAR
Adapun makna sabar menurut bahasa maupun istilah Syari'ah Islamiyah ialah "menahan diri". Artinya sabar itu adalah "upaya menahan diri dari tindakan meratapi atau panik dalam musibah atau malapetaka". Dan termasuk dalam sabar di antaranya menahan lisan dari perkataan yang menunjukkan keluh kesah dengan malapetaka itu. Serta menahan anggota badan dari tindakan menampar muka atau merobek baju dan berbagai tindakan meratapi musibah (Al-Imam Syamsuddin Abi Abdillah Muhammad bin Abi Bakr Az-Zura'i Ad-Dimasyqi yang terkenal dengan Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah dalamIdatus Shabirin halaman 22, dengan Tahqiq Muhyiddin Musto, Daru Ibni Katsir cet. Th. 1414 H / 1993 M). Adapun hakikatnya sabar itu adalah sebagai perangai yang utama dari akhlak yang mulia dimana dengannya seorang Mu'min akan tertahan dari segala perbuatan yang tidak baik dan tidak elok. Dan sabar itu adalah merupakan kekuatan dari kekuatan jiwa yang dengan kekuatan itu akan memperbaiki keadaannya dan akan menjadi baik segala urusannya. Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah menukil omongan para Ulama' yang menerangkan hakikat sabar ini. Antara lain yang beliau nukilkan adalah perkataan Al-Khawwash menyatakan: "Sabar itu adalah cara hidup yang kokoh berjalan diatas bimbingan Al-Qur'an dan As-Sunnah (Ibid halaman 24).
Al-Hafidh Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan: "Sabar itu ada dua. Yaitu sabar dalam meninggalkan maksiat dan (yang kedua adalah) sabar dalam mengerjakan amalan-amalan taat serta mendekatkan diri kepada Allah Ta`ala. Sedangkan jenis kesabaran kedua, lebih besar pahalanya karena kesabaran yang demikian inilah yang dituju dengan amalan sabar itu. Bisa pula dikatakan adanya jenis kesabaran yang ketiga ialah sabar dalam menghadapi berbagai musibah dan kesedihan. Maka jenis kesabaran ini juga wajib sebagaimana wajibnya istighfar (yakni memohon ampun kepada Allah) dari berbagai keaiban"(Tafsir Ibnu Katsir halaman 191, Darul Kutub Al -Ilmiyah cet. Th. 1425 H / 2004 M). Uraian para Ulama tersebut berdasarkan firman Allah Ta`ala berikut ini:
"Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." (Al-Baqarah: 153)
Juga sabda Nabi shallallahu `alaihi wa alihi wa sallam berikut ini:
"Keadaan orang Mu'min itu sangat menakjubkan. Tidaklah Allah menaqdirkan atasnya satu ketentuan taqdir, kecuali pasti akan menjadi kebaikan baginya. Bila diliputi kesenangan, maka dia akan bersyukur dengan kesengan itu, sehingga dengan demikian menjadi kebaikan baginya. Dan bila dia ditimpa malapetaka, maka dia akan bersabar dengannya dan yang demikian itu juga menjadi kebaikan baginya." (HR. Muslim juz 3 no. 2999 hal. 602)
Maka dengan demikian, sabar itu meliputi segala keadaan baik susah maupun senang. Baik keadaan damai maupun perang. Semua keadaan memerlukan kesabaran dalam mentaati Syari'at Allah di berbagai sisi kehidupan di muka bumi ini. Yaitu kesabaran dalam tiga situasi dan kondisi yang meliputi:
1. Sabar dalam mentaati Syariat Allah dan Rasul-Nya yang dinamakan Syari'at Islamiyah.
2. Sabar menahan diri dari godaan syahwat untuk melanggar larangan-larangan Allah dan Rasul-Nya.
3. Sabar dalam menerima malapetaka yang telah terjadi dengan tetap bersangka baik kepada Allah telah menaqdirkan terjadinya malapetaka itu dan menjaga lesan serta menjaga segenap anggota tubuh untuk jangan berkata atau bertindak dengan dengan perkataan atau tindakan yang menunjukkan tidak rela dengan apa yang Allah taqdirkan itu.
BEBERAPA AYAT QUR'AN DAN HADITS NABI YANG BERKENAAN DENGAN SABAR
Setelah kita memahami pengertian dan hakikat kesabaran itu, maka kita perlu mengambil faidah dari beberapa ayat Qur'an dan hadits Nabishallallahu `alaihi wa alihi wa sallam berkenaan dengan sabar ini. Ayat-ayat dan hadits-hadits itu adalah sebagai berikut:
1. Allah Ta`ala mensyaratkan kemenangan bagi kaum Mu'minin dengan kesabaran:
"Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kalian dan kuatkanlah kesabaran kalian dalam menghadapi musuhmu dan bersiagalah kalian di tempat yang dimungkinkan akan datangnya serangan musuhmu. Dan bertaqwalah kalian kepada Allah, niscaya kalian akan menang." (Ali Imran: 200)
Maka Allah Ta`ala mensyaratkan kemenangan dari-Nya dengan empat perkara, yaitu:
1) Sabar.
2) Tetap dalam kesabaran itu ketika menghadapi musuh agama Allah.
3) Tetap bersiaga dalam menghadapi kemungkinan serangan musuh Islam.
4) Bertaqwa kepada Allah Ta`ala dalam menjalani semua langkah perjuangan di jalan Allah.
2. Allah Ta`ala mensyaratkan sifat bagi pelopor dan pemimpin dalam beragama itu ialah dengan kekuatan kesabaran dan kekuatan keyakinan.
"Dan Kami jadikan dari mereka anak cucu para Nabi itu para pimpinan yang membimbing ummatnya dengan perintah Kami, ketika mereka sabar dan mereka meyakini ayat-ayat Kami." (As-Sajdah: 24)
Maka dengan sabar dan kekuatan keyakinan kepada kebenaran agama Allah, akan dicapai kepemimpinan dalam agama.
3. Allah Ta`ala menganugerahkan kepada orang-orang yang sabar beberapa keutamaan yang tidak diberikan kepada yang lainnya:
"Dan beri kabar gembira kepada orang-orang yang beriman, yang mereka itu bila ditimpa musibah, mereka akan menyatakan: Sesungguhnya kami ini milik Allah dan sesungguhnya kami akan kembali kepada-Nya. Bagi mereka ini shalawat dari Tuhan mereka dan Rahmat-Nya dan mereka itu adalah orang yang telah mendapatkan petunjuk." (Al-Baqarah: 156 - 157)
Dalam ayat ini Allah Ta`ala menjanjikan bagi orang yang bersabar dengan tiga keutamaan, yaitu:
1) Shalawat dari Allah Ta`ala. Yaitu disebut-sebut namanya dengan kebaikan oleh Allah Ta`ala di hadapan para Malaikat-Nya.
2) Rahmat Allah bagi mereka yang sabar. Yaitu ampunan dari-Nya dari segala dosa-dosa yang pernah dia lakukan.
3) Petunjuk kepada jalan kebenaran di dunia maupun di akherat.
4. Allah Ta`ala mensyaratkan datangnya pertolongan-Nya kepada hamba-Nya yang mukmin dengan kesabaran ketakwaan.
"Bahkan bila kalian bersabar dan bertakwa kepada Allah, maka bila datang kepada kalian serangan dari musuh-musuh kalian dengan seketika itu juga akan datang pertolongan dari Tuhan kalian dengan lima ribu Malaikat yang memakai tanda pengenal. Dan Allah tidak menjadikan pemberian bala bantuan itu melainkan sebagai kabar gembira bagi kemenanganmu dan agar tenteram hatimu karenanya. Dan kemenanganmu itu hanyalah dari Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (Ali Imran: 125 - 126)
Kesabaran kaum Mu'minin untuk tidak lari dari perjuangan di jalan Allah adalah syarat untuk datangnya pertolongan Allah kepada mereka.
Lebih tegas lagi hal ini telah dinyatakan oleh Nabi shallallahu `alaihi wa sallam dalam sabdanya:
"Dan ketahuilah bahwa pertolongan Allah akan datang bersamaan dengan adanya kesabaran (pada kaum Mu'minin)." (HR. Ahmad dalamMusnadnya jilid 1 halaman 307 dan Al-Hakim dalamMustadraknya jilid 3 halaman 541 - 542).
Bahkan pertolongan dalam medan perang dengan bala bantuan personil Malaikat Allah yang ikut bertempur di pihak barisan kaum Mu'minin melawan barisan tentara kafir.
5. Sabar adalah akhlaq para Nabi dan para Ulama' pengikut para Nabi itu. Mereka adalah orang-orang yang dicintai oleh Allah dan kita diperintah oleh-Nya untuk meniru jejak mereka.
"Dan berapa banyak Nabi yang berperang bersama mereka para pengikut mereka. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah dan tidak lesu dan tidak menyerah kepada musuh mereka. Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar. Tidak ada doa mereka selain ucapan: Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkan pendirian kami dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir. Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan." (Ali Imran: 146 - 148)
Demikianlah kesabaran itu menjadi sebab cintanya Allah kepada hamba-hambaNya yang berperang di jalan-Nya. Sabar di jalan Allah juga menjadi sebab diampuninya dosa-dosa mereka serta berbagai kesalahan-kesalahan mereka dalam perjuangan itu sehingga Allah muliakan mereka di dunia dan di akherat.
6. Sabar itu juga adalah akhlak kaum Mu'minin calon penghuni surga, ketika kesabaran itu mendampingi iman kepada Allah Ta`ala.
"Kemudian dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang. Mereka ini adalah golongan kanan." (Al-Balad: 17 - 18)
Juga Allah Ta`ala berfirman:
"Demi masa, sesungguhnya manusia itu dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih dan saling berpesan kepada kebenaran dan saling berpesan kepada kesabaran." (Al-Ashr: 1 - 3)
Maka demikianlah sesungguhnya kedudukan akhlaq sabar itu, adalah akhlaq penghuni surga yang dengan kesabaran mereka maka mereka saling mengupayakan tumbuhnya saling menyayangi di antara mereka dan dengan kasih sayang sesama kaum Mu'minin.
Hal ini lebih ditegaskan lagi oleh Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallamdalam sabda beliau sebagai berikut dari Abu Hurairah radliyallahu `anhu:
"Tidak akan mungkin salah seorang dari kalian masuk surga sehingga dia beriman dan tidak dia beriman sehingga dia saling menyinta. Maukah kalian aku tunjukkan kepada satu amalan yang bila kalian lakukan maka kalian akan saling menyinta. Amalan itu adalah menebarkan ucapanassalamu alaikum di antara kalian." (HR. Muslimdalam Shahihnya juz 1 hal. 80 no. 54)
Juga mereka itu selamat dari kerugian hidup di dunia, karena mereka menghiasi iman mereka kepada Allah dengan akhlaq sabar dalam berpegang dengan kebenaran dan saling berpesan dengan kebenaran dan kesabaran itu.
7. Dengan menjalankan kesabaran dan ketaqwaan kepada Allah Ta`ala, kaum Mu'minin akan selamat dari segala makar yang dilancarkan oleh musuh-musuh mereka dari kalangan orang-orang kafir dan orang-orang munafiq.
"Dan bila kalian bersabar dan bertaqwa kepada Allah, niscaya tidak akan merugikan kalian segala makar jahat mereka sedikitpun." (Ali Imran: 120)
8. Sabar itu adalah tameng bagi orang mukmin dalam menghadapi segala problem hidup.
Hal ini sebagaimana yang riwayat yang dibawakan oleh Imam Adz-Dzahabi di dalam kitab Al-Kabair:
"Sabar itu adalah tameng." (Lihat Al-Kabair oleh Adz-Dzahabi juz 1 hal. 56, dan Adabud Dien wa Dunya juz 1 hal. 251, dan I`anatut Thalibina min Kutubil Fiqhi As-Syafi`i juz 2 hal. 241, dan Ash-Shabru Junnah dari Kitab Nihayatul Irbi fi Fununil Arab juz 1 hal. 282, dan dari Kitab Ghurarul Khasya'isi Al-Wadlihati karya Al-Wathwath juz 1 hal. 142)
Juga diriwayatkan oleh Anas bin Malik bahwa Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bersabda:
"Sabar itu adalah cahaya hidup." (HR. Muslim no. 223)
Al-Imam Abu Zakaria An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim hadits ke 1053 beliau menyatakan: Bahwa pengertian hadits ini ialah: "Bahwa sabar itu adalah amalan terpuji yang bila ada pada seseorang maka dia akan terus menerus mendapatkan bimbingan hidayah (petunjuk) untuk terus berjalan di atas kebenaran."
9. Sabar itu bagi orang mukmin akan menjadi sebab untuk dihapuskannya dosa-dosanya ketika ia ditimpa musibah. Hal ini sebagai sabda Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam:
"Tidaklah seorang Muslim ditimpa satu penyakit atau satu musibah atau satu keresahan atau satu kesedihan atau satu gangguan atau satu kegalauan, sampaipun duri menusuk tubuhnya kecuali AllahSubhanahu wa Ta`ala akan menggugurkan penyakit daripadanya." (HR.Bukharidalam Shahihnya dan Muslim dalam Shahih no. 2573)
10. Dengan sabar seorang mukmin dapat menyelamatkan dirinya dari godaan fitnah dunia sehingga menyelamatkan iman dan Islamnya sampai mati. Hal ini sebagaimana yang disabdakan Rasulullahshallallahu `alaihi wa sallam:
"Sesungguhnya kalian akan menghadapi sepeninggalku berbagai kedhaliman terhadap hak kalian. Oleh karena itu bersabarlah kalian dalam menghadapi berbagai kedhaliman itu sehingga kalian berjumpa denganku di telaga Al-Haudl di mahsyar nanti." (HR. Bukhari dalam Shahihnya juz 11 no. 3792 hal. 506 dan Muslim dalam Shahihnya)

Al-Ustadz Ja'far Umar Thalib

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar